Sunday, January 13, 2013

CINTA : PSIKOLOGI DAN AGAMA



Kata Jebraw, cinta itu seperti manjat gunung purba. Ya. Mungkin jika dimaknai, butuh perjuangan tuk menggapainya. Dengan kata lain, cinta itu bisa diusahakan. Kasarannya, cinta itu bisa dipaksakan. Namun tak seperti angin ketika berhembus kencang memaksa seorang penggembala membuka pakaiannya, melainkan bak matahari yang menyengat dengan panasnya hingga membuatnya gerah dan melepaskan bajunya dengan sukarela. Begitulah cinta, menyerahkan hati dan kehidupannya dengan sukarela.

Aku baru tahu bahwa cinta itu bosa dipaksakan dan diusahakan, bahkan ada triknya juga untuk dicintai, ketika aku masih duduk di bangku SMK. Saat itu guru BP-ku adalah seorang sarjana psikologi yang bisa dibilang pintar, cerdas, baik, dan super. Banyak hal yang beliau sampaikan kepada kami -para siswa- yang mana materi itu tidak -atau jarang- diajarkan di sekolah-sekolah menengah biasa, badingannya ya minimal sekolah menengah di komplek kami.
Setelah mendapatkan materi itu, aku akhirnya sadar bahwa Rasulullah SAW, sang psikologi terhebat se-jagat raya, telah memberikan kerangka-kerangka kehidupan untuk menjalani cinta lebih baik.
OK, kali ini aku menulis tentang cinta.

Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Bisa dialami semua makhluk. Penggunaan perkataan cinta juga dipengaruhi perkembangan semasa. Perkataan sentiasa berubah arti menurut tanggapan, pemahaman dan penggunaan di dalam keadaan, kedudukan dan generasi masyarakat yang berbeda. Sifat cinta dalam pengertian abad ke 21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:
  • Perasaan terhadap keluarga
  • Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
  • Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
  • Perasaan yang hanya merupakan kemahuan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros
  • Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
  • Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
  • Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu
  • Perasaan terhadap negaranya atau patriotisme
  • Perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme

Kali ini aku membahas mengenai cinta terhadap sesama manusia, namun berbeda jenis. 
Para psikolog mengemukakan berbagai jenis cinta, tapi tak akan di bahas disini mengingat tidak begitu urgen dan tidak terlalu relevan dengan topik pembahasan.
Baiklah. Begini.
Rasulullah SAW pernah bersabda.
تنكح المرأة لأربع, لمالها و لجمالها و لحسبها و لدينها, فاظفر بذات الدين تربت يداك
"Perempuan itu dinikahi dengan latar belakang 4 hal, yaitu karena hartanya, kecantikannya, keturunannya, dan diin-nya. Oleh karena itu, engkau harus merasa cukup dengan perempuan yang memiliki diin, niscaya beruntunglah kamu"
Rasulullah telah mensinyalir motif-motif pernikahan atau pun percintaan, baik itu laki-laki terhadap perempuan maupun sebaliknya. Tetapi selanjutnya Rasul sendiri menganjurkan -bahasa halusnya memerintahkan- umatnya untuk memilih motif kepribadian, sikap bathin, dan perilaku yang baik.

Lain halnya dengan suka. Suka itu berlandaskan kekaguman, cinta itu berlandaskan kasih sayang. Mustahil tuk mengusahakan suka, namun tuk mengusahakan cinta itu mungkin. Bisa saja orang mencintai hal yang tak ia sukai. Karena cinta bukanlah suka. 

"Aku tidak bisa memaksamu menyukaiku, tapi aku bisa membuatmu mencintaiku", begitulah prinsipnya.



Lantas bagaimana tuk mendapatkan orang yang seperti itu?

Sulit tuk mendapatkan orang yang berkepribadian baik sedangkan diri sendiri pun tak baik. Bagaimana orang baik mau tertarik pada orang yang kurang baik? Sisi yang paling menarik untuk dicintai adalah kepribadian yang baik, pendeknya kebaikan. Bukan kecantikan atau ketampanan, bukan pula kekayaan. Karena cinta termasuk pada ranah emosional murni, cenderung kepada kebaikan, kenikmatan bathin, bukan lahir semata.
Oleh karena itu, cara paling jitu adalah memantaskan diri untuk dicintai oleh orang yang baik. Artinya memperbaiki diri. Baik secara spiritual, emosional, lebih baik lagi dalam hal intelektual. Tetapi spiritual dan emosional itula yang terpenting. Karena esensi "diin" adalah kerangka spiritual dan emosional. Pilihlah dan cintailah orang yang dapat membuat kita lebih dekat dengan Sang Maha Cinta.

Dan lagi, cinta itu bukan apa adanya, tapi ada apanya.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang memiliki "diin" sebagaimana dimaksudkan oleh Rasululaah SAW, bukan sekedar "diin" yang difahami kita.
Ya Allah, berilah kami secercah cahaya Rasul agung-Mu, berilah kami sedikit kecerdasannya, agar kami bisa memahami berbagai isyaratnya.

4 komentar:

  1. Komentarmu waktu malam konferensi kemarin lebih waw dari tulisan ini, Hanif. Explore lagi dooonggg!!! Kamu itu pintar, lho. Maksimalkan ya!

    But overall, this's nice post. Ingat teori jaraknya si-Arsjad ya! Hehehe *nyengir kuda

    ReplyDelete
  2. thanks guys. ya, disisni memang tak dibahas mengenai pendapat ar-Raghib al-Isfahani seperti yaang ku bahas waktu konfrensi. disini juga tak dibahas menikah dengan lain agama. :)
    yup, skali lagi, thanks so much for critics n contributions. i hope those to build my better n my best self. :)n for all i hope the best.

    ReplyDelete
  3. thanks kawan. :) pleas give a contribution for better. ^_^

    ReplyDelete